dan kita adalah sekumpulan galaksi mini

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
  • Submit

Resensi: Cerita Sahabat

DENGARLAH BISIKKU, KAWAN

Oleh Mayang Dwi Astrini

 

Judul buku             : Cerita Sahabat

Penulis                   :  Alberthiene Endah & Friends

Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman    : 336 halaman

Harga                    : Rp 58.000


Cerita Sahabat merupakan antologi cerpen yang diprakarsai oleh Alberthiene Endah, seorang penulis biografi, skenario, dan fiksi. Bersama rekan-rekannya yaitu Alexander Thian, Faye Yolody, Tjhai Edwin, Verry Barus, Rahne Putri, Dillon Gintings, Chicko Handoyo Soe, Jia Effendie, Rendy Doroii, Ollie, dan Faizal Reza, ia mengompilasi 27 cerita pendek dalam sebuah buku yang “tidak biasa”.

Aura yang dibawa buku ini memang tidak biasa. Kita akan dikejutkan dengan awalan yang lantang dan vulgar oleh Alexander Thian. Pengguna situs jejaring sosial Twitter pasti sudah tidak asing dengan namanya. Sama seperti Alberthiene Endah, Alexander Thian juga sejatinya adalah seorang penulis yang saat ini bekerja sebagai scriptwriter. Benar saja, empat cerpen garapannya memang memberikan corak tersendiri dibanding karya-karya yang lain. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya mungkin adalah kompleks. Tetapi jangan terlalu cepat puas dahulu, masih ada Rahne Putri dengan rangkaian kata-katanya yang puitis namun mudah diresapi; Faye Yolody yang simple dan tidak muluk tetapi berhasil membangun mood secara dramatis; dan Ollie yang romantis serta mengalir lembut. Tidak lupa, Alberthiene Endah yang bercerita dengan sudut pandang dewasa tetapi sangat ringan.

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, Cerita Sahabat memang memiliki tema cerita yang khas. Kalau biasanya buku-buku lain melulu menceritakan kisah cinta dengan segala romantismenya, patah hati dengan semua keterpurukannya, atau perpisahan dan perjumpaan yang silih berganti, maka Cerita Sahabat menyajikannya dengan bumbu-bumbu anomali. Isu-isu homoseksual, transgender, serta kompleksitas dalam percintaan sangatlah pekat. Tetapi justru hal itulah yang juga menjadi kelemahannya, kita dapat cepat menjadi bosan dengan atmosfer sedih yang kerap sekali mengisi buku ini. Saya sendiri tidak dapat menangkap penyusunan cerita dari masing-masing cerpenis yang nampaknya dibuat secara acak. Ketiadaan daftar isi juga dapat membuat pembacanya sangat kelimpungan. Sayangnya sekali lagi saya harus menampilkan kata tetapi: tetapi tenang saja karena ada juga kebahagiaan yang tersirat dalam semburat kepedihan tersebut, membuat saya merasa bahwa kehidupan tidaklah mungkin hanya kita lihat dari sisi hitam atau putih.

Saya mungkin bukan orang yang sering membeli buku atau secara rutin memutakhirkan koleksi bacaan saya tetapi saya merasa puas telah menghabiskan Rp 58.000 untuk sebuah buku berkualitas seperti ini. Ya, saya banyak sekali menggunakan kata “tetapi” di sini karena memang buku ini kontradiktif, asing, dan anti mainstream. Berkat Cerita Sahabat saya menyadari bahwa ada hal-hal di luar sana yang memang tidak berjalan seperti normalnya. Sebagian dari kita menyadarinya, sebagian tidak, sebagian lagi mungkin berpura-pura tidak mengetahuinya. Siapa yang dapat menyangka kalau ternyata semua itu hadir di tengah-tengah kita dan bahkan berada dalam diri kita sendiri? Dengan buku ini, saya merasa dibisiki sebuah rahasia terdalam dari sahabat saya sendiri.


  • 4 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
← Previous • Next →

About

aku. kamu. dunia. terkoneksi tanpa diketahui. lantas mengapa tak saling berjabat saja?

calling from here. Mayang Dwi Astrini.

Twitter

loading tweets…

Following

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Submit
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr